tagline fgbmfi

A good leader is a good listener

good leaderAlkitab banyak sekali menulis tentang mendengar, baik tentang kita mendengarkan perintah Tuhan maupun mendengarkan nasihat sesama manusia. Hal ini berarti keterampilan mendengar adalah hal yang sangat esensial dalam kehidupan manusia.

Banyak pemimpin di dunia kerja yang memiliki kepribadian know-it-all (sok tahu), yaitu merasa tahu semua hal dan merasa tidak pernah salah. Seseorang harus bekerja untuk pemimpin yang tidak pernah salah sangat mungkin mengalami demotivasi berat. Karyawan sering kali frustrasi dan tidak mengerti mengapa pemimpinnya menolak ide-idenya tanpa mau mendengarkan lebih dahulu. Pemimpin jenis ini sulit memahami perasaan (misalnya, intuisi, isi hati) dan pikiran (misalnya, gagasan/ide, prediksi, analisis) orang lain serta sulit mendengarkan orang lain. Pemimpin jenis ini selalu berpikir bahwa pendapatnyalah yang paling penting dan paling benar/akurat. Akibatnya, ide-ide dan pemikirannya harus didengarkan serta dituruti, tetapi ia memiliki sedikit sekali kesabaran ketika perlu mendengarkan ide-ide dan pemikiran orang lain.

Keterampilan mendengarkan adalah salah satu keterampilan yang paling menantang dalam proses komunikasi antarmanusia, dan inilah sebabnya banyak pemimpin terjebak menjadi sosok yang know-it-all tadi. Setiap pemimpin seharusnya selalu bersedia mendengarkan orang lain, terutama anggota timnya. Pemimpin tidak boleh merasa superior sendiri dan meremehkan pendapat orang lain, karena pada dasarnya pemimpin bukanlah pemimpin tanpa tim yang dipimpinnya. Pemimpin membutuhkan anggota timnya. Jika Anda adalah seorang pemimpin dalam pekerjaan atau bisnis, Anda harus senantiasa berusaha agar tidak menjadi pemimpin yang egois, sombong, dan mudah membuat anggota tim Anda jengkel. Sediakan diri untuk selalu mau dikritik dan diberi masukan oleh anggota tim Anda. 

Bagaimana caranya? Berikut adalah beberapa kiat yang jitu untuk melatih diri menjadi pemimpin yang mau mendengarkan orang lain, khususnya mendengarkan anggota tim.

1. Berfokuslah mendengarkan.

Sejak Anda tahu akan berkomunikasi dengan seseorang, persiapkan diri Anda dengan semaksimal mungkin menghilangkan gangguan. Pastikan bahwa Anda relaks dan tidak terdistraksi oleh interupsi apa pun yang tidak perlu, sehingga Anda bisa berfokus pada pembicara. Kesampingkan hal-hal lain di luar topik pembicaraan dari pikiran Anda. Sadarkah Anda bahwa saat mendengarkan orang berbicara, benak kita sering sibuk berdialog sendiri? “Nanti mau makan siang apa, ya?” “Jam berapa saya harus berangkat agar tidak kena macet?” “Hmm… Jangan-jangan laporan yang deadline-nya kemarin itu belum dia selesaikan juga hari ini…” Cobalah singkirkan pikiran-pikiran lain semacam ini dan berkonsentrasilah pada pesan yang sedang dikomunikasikan oleh pembicara. Saat mendengarkan, jangan mencoret-coret kertas, melihat ke luar jendela, menggosok kuku tangan, atau menyibukkan diri dengan hal-hal lain semacam itu. Perilaku ini mengganggu proses mendengarkan dan menyampaikan pesan tak langsung kepada pembicara bahwa Anda merasa bosan atau terganggu.

2. Berhentilah berbicara, tundalah bereaksi.

Jangan bereaksi atau berbicara dulu, tetapi dengarkan ketika orang lain berbicara. Latihlah diri Anda menunda komentar atau reaksi dan dengarkan apa yang orang lain katakan. Ini penting sekali agar Anda sungguh-sungguh memahami pesan dari orang itu secara akurat dan utuh. Jangan menyela atau memberikan penilaian di dalam benak Anda. Dengarkan saja, tanpa sibuk berpikir atau berbicara. Setelah orang itu selesai berbicara, Anda mungkin perlu mengklarifikasi untuk memastikan apakah Anda telah menerima pesan yang disampaikan secara akurat dan utuh.

3. Terapkan empati.

Cobalah untuk memahami sudut pandang orang lain. Lihatlah masalah dari sudut pandang pembicara dan lepaskan diri Anda dari prasangka atau asumsi (apalagi yang tak berdasar). Dengan memiliki pikiran terbuka, kita dapat lebih sepenuhnya berempati kepada pembicara. Jika pembicara mengatakan sesuatu yang tidak Anda setujui, jangan langsung membangun argumen dalam benak Anda. Tetaplah berpikiran terbuka mengenai pandangan dan pendapat orang lain, sampai Anda menangkap seluruh pesannya.

4. Perhatikan komunikasi nonverbal.

Volume dan nada suara menegaskan maksud pesan pembicara. Demikian pula dengan gerak tubuh, ekspresi wajah, pandangan mata, maupun bentuk-bentuk komunikasi nonverbal lainnya. Perhatikan pembicara. Segala hal yang bersifat nonverbal (tanpa kata-kata) ini penting dan menolong kita untuk memahami apa yang ia sampaikan secara verbal (melalui kata-kata). Kita tidak hanya mendengarkan dengan telinga, tetapi juga dengan mata, pikiran, dan hati. Misalnya, ketika pembicara berkata bahagia dengan pekerjaannya tetapi ekspresi wajahnya muram, suaranya bergetar, dan matanya berkaca-kaca, Anda perlu bertanya lebih lanjut karena kemungkinan besar ia justru tidak bahagia. Sambil berempati, pahami seberapa pembicara menekankan, merasa antusias, atau bahkan merasa frustrasi dengan pesan yang disampaikannya.

5. Tunjukkan ekspresi yang menimbulkan kebebasan dan rasa nyaman pembicara.

Bantu pembicara untuk merasa bebas dan nyaman berbicara dengan ekspresi-ekspresi tertentu. Mengangguk, melakukan kontak mata, menggunakan gerakan tangan, atau mengucapkan kata-kata pendek seperti “oh, begitu” atau “lalu selanjutnya?” akan mendorong pembicara melanjutkan kalimatnya. Semua ekspresi ini, jika dilakukan dengan tulus dan sungguh-sungguh, dapat menunjukkan bahwa Anda mendengarkan dan memahami apa yang dikatakan pembicara.

6. Hindari penilaian pribadi.

Cobalah untuk tidak terganggu dan tidak memberikan penilaian pribadi dengan kebiasaan pembicara saat ia berbicara. Setiap orang memiliki cara berbicara yang berbeda, ada yang gugup sehingga sering menggoyang-goyangkan kaki, ada yang cenderung membuat gerakan tangan berlebihan, dan macam-macam lainnya. Tetaplah berfokus pada pesan yang sedang disampaikan dan usahakan untuk mengabaikan cara atau gaya yang tidak berkaitan dengan pesan itu.

7. Bersabarlah dengan jeda.

Sebuah jeda, bahkan jeda yang cukup panjang, belum tentu berarti bahwa pembicara selesai berbicara. Bersabarlah dan berikan waktu untuk pembicara melanjutkan. Jika perlu, tanyakan apakah ia sudah selesai berbicara. Kadang-kadang pembicara membutuhkan waktu tambahan untuk merumuskan apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya. Jangan memotong atau berusaha menyelesaikan kalimatnya sebelum ia sendiri benar-benar selesai.

8. Temukan ide dan inti pesannya, jangan pusingkan kata-katanya.

Anda perlu memahami gambar besar dan inti dari pesan pembicara, bukan hanya potongan-potongan atau bagian-bagiannya. Karena itu, jangan pusingkan kata-kata tertentu yang pembicara gunakan, dan tangkap maksudnya yang sebenarnya. Mungkin salah satu aspek yang paling sulit dari mendengarkan adalah kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian informasi untuk memahami seluruh inti pesan pembicara. Namun dengan berkonsentrasi dan tetap berfokus, hal ini sangat mungkin untuk dilakukan.

Ingatlah, seorang pemimpin yang baik adalah seorang pendengar yang baik. Karena itu, kita semua yang memimpin harus belajar mendengarkan semakin baik setiap saat. Selamat belajar dan mempraktikkan menjadi pendengar yang baik.

Sumber : abbalove.org

Posted in Marketplace

lt ad-1004 powerpoint templates title slide rev

  •  BRA-Q       Crapoe-Seafood-Restaurant copy
  • chemindo   Logo Puri Saron Hotels 
  • prego

Copyright © 2013 Communication & Publication Department FGBMFI Indonesia

Website Security Test