tagline fgbmfi

6 Kiat Tetap Berjuang dalam situasi ekonomi lesu

kiat berjuangSuatu malam sebelum menulis artikel ini pada suatu pagi hari di bulan November 2017, tiba-tiba saja saya mendapatkan pesan WhatsApp berikut:

“Krisis ekonomi diperkirakan terjadi di 2018, ini kata Sri Mulyani. Bersiaplah menyambut krisis dengan dengan berbenah... Ini sudah mulai masuk November, prediksi 2018 krisis, kalau kita tidak mempersiapkan diri bisa kolaps... Perkuat modal, kurangi utang apalagi utang bank, tingkatkan efisiensi produksi dan efisiensi di segala hal, cari pasar yang potensial menghasilkan cash flow dan menjadi laba ditahan untuk memperkuat modal kerja. Kurangi konsumsi, lebih banyak berhemat.”

Respons otomatis apa yang muncul di pikiran Anda saat membaca pesan seperti di atas? Saat itu, yang muncul dalam pikiran saya secara otomatis adalah kekhawatiran. Saya berpikir, “Aduuhh… kok tak habis-habisnya sih krisis ini,” apalagi saya langsung teringat bahwa tahun 2018 adalah tahun politik, yang pasti memanas karena persiapan pemilihan presiden.

Namun, saat pagi harinya menulis artikel ini, saya juga menerima pesan WhatsApp berikut:

“Rasa khawatir timbul saat seseorang melihat keadaan di sekitarnya tidak lagi dapat memberikan harapan untuk hidup lebih baik. Bagi orang dunia, memiliki kekhawatiran adalah hal yang biasa atau sesuatu yang normal. Namun, kekhawatiran tidak wajar bagi orang percaya!

Kekhawatiran adalah salah satu bentuk dari intimidasi iblis. Ya, berbagai upaya dilakukan iblis untuk melemahkan iman kita, salah satunya melalui kekhawatiran. Khawatir berarti kita meragukan kuasa Tuhan dalam hidup kita. Ini ironis, karena sebenarnya kita mengenal Tuhan dan mengenal kuasa-Nya. Seharusnya, kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang bebas dari kekhawatiran, karena Tuhan rindu dan sanggup menyediakan segala kebutuhan kita, ‘Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur,’ (Filipi 4:6). Kekhawatiran hanya akan membuang-buang waktu saja. Itu tidak akan mengubah apa pun. Sebaliknya, kekhawatiran justru akan mencuri kebahagiaan dan membuat kita sibuk tanpa perlu karena memikirkan hal yang sia-sia.”

Puji Tuhan, intimidasi kecil yang saya alami malam sebelumnya tidak mengganggu lagi. Saya kembali dikuatkan oleh pesan di pagi harinya tentang betapa sia-sianya khawatir bagi orang percaya.

Namun, di awal tahun 2018 ini, sebagai pekerja profesional dan pelaku bisnis yang harus realistis menyikapi perkembangan situasi, apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi situasi ekonomi yang masih diramalkan lesu? Pilihannya hanya dua: bangkit dan tetap berjuang atau pesimis dan menyerah. Artikel ini ditulis untuk kita yang mengambil pilihan yang pertama, yaitu bangkit dan tetap berjuang.

Nah, apa yang bisa kita lakukan? Selain mengandalkan Tuhan dan hikmat-Nya, berikut beberapa kiat yang perlu kita terapkan:

1. Analisis laporan keuangan bisnis

Ketika Anda membedah laporan keuangan perusahaan, Anda akan mendapatkan banyak informasi untuk melakukan pembenahan perusahaan sesuai kebutuhan pada situasi itu. Dalam membedah laporan keuangan, jawablah berbagai pertanyaan ini:

• Apa saja pemborosan yang terjadi dan pengeluaran di bidang apa saja yang bisa dihemat? 

• Bagaimana rasio produktivitas perusahaan? Bandingkan jumlah karyawan dan output yang dihasilkan. 

• Berapa banyak pelanggan/konsumen/klien yang menghasilkan laba bagi perusahaan? Identifikasi besarnya pareto pelanggan perusahaan. 

• Seberapa efektif biaya pemasaran dan operasional kita terhadap pertumbuhan market share dari data tiga tahun terakhir?

• Berapa banyak/besar kasus error, defect, atau rework yang terjadi di bagian produksi? 

• Berapa banyak inventory yang kategori slow moving goods atau dead stock?

• Seberapa efektif cara kita mengelola penagihan piutang perusahaan? 

• Seberapa efektif strategi pemasaran mempertahankan pelanggan/konsumen/klien sehingga tidak beralih ke perusahaan pesaing? 

Sebagai catatan penting, melakukan efisiensi bukan berarti mengurangi biaya saja. Tidak ada manfaatnya Anda hemat listrik, kertas, biaya pelatihan, memotong uang makan, dan sebagainya, tetetapi membiarkan banyak kebocoran internal yang nilainya tanpa disadari bisa besar sekali.

2. Blusukan dan turba

Dalam situasi ekonomi yang lesu dan berat, justru para pemimpin usaha mulai dari direktur hingga supervisor harus sering turun ke lapangan dan terlibat langsung dalam proses usaha. Jangan terlalu banyak wacana atau rapat dan diskusi di belakang meja saja. Pimpin tim Anda turun ke bawah (turba) dan lakukan blusukan untuk mendeteksi berbagai pembenahan yang bisa dilakukan. Kunjungi pelanggan atau klien Anda, berdiskusilah dengan para agen Anda, masuklah ke gudang melihat situasi yang ada, libatkan diri melayani konsumen untuk mendapatkan informasi tentang kendala yang dikeluhkan, dsb. Intinya, temukan apa yang bisa dibenahi, dipersingkat, dipermudah, dan dipercepat.

3. Continuous improvement system

Ciptakan sebuah sistem di dalam perusahaan yang mengharuskan setiap karyawan dan pemimpin untuk menciptakan kreativitas dan inovasi kerja. Meskipun usaha Anda sedang menghadapi tantangan atau permasalahan, jangan berhenti berkreasi dan berinovasi menciptakan strategi-strategi baru. 

Berpikir kreatif dan inovatif bukan hanya dilakukan oleh para pemimpin saja, tetapi libatkan semua karyawan untuk melakukannya. Sebenarnya, sering kali karyawan di tingkat bawah atau operasional justru bisa menemukan berbagai ide kreatif, karena merekalah yang paling paham kondisi lapangan.

4. Standard operating procedures (SOP) yang lebih mudah dan lebih cepat

Daripada meratapi situasi ekonomi yang lesu, manfaatkan idle time SDM perusahaan Anda untuk mendiskusikan kembali dan menemukan cara kerja yang lebih mudah dan lebih cepat. Pangkas berbagai prosedur yang memperlambat dan yang terlalu birokratis, maksimalkan prosedur yang bisa menghasilkan output lebih banyak. Selanjutnya, latih karyawan Anda dengan SOP yang lebih efisien dan lebih produktif.

5. Semakin banyak pelatihan motivasi

Secara internal, Anda perlu menciptakan suasana kerja yang memberikan motivasi kerja dalam menghadapi situasi ekonomi lesu. Contohnya, lakukan sesi motivasi khusus seminggu sekali, maksimal 30–60 menit per departemen/bagian. Siapa saja boleh memimpin sesi motivasi ini, dari direktur sampai office boy. Manfaatkan berbagai video motivasi dari YouTube atau artikel inspiratif dari Google sebagai bahan diskusi dan membangun mindset karyawan. Intinya, gunakan berbagai cara untuk membangkitkan semangat kerja karyawan saat target kinerja dan produktivitas tak tercapai, bukan memarahi atau menerapkan penalti.

6. Doa bersama

Sebelum bekerja setiap pagi, ajak karyawan Anda berdoa bersama untuk pekerjaan hari itu. Bagaimana cara melakukannya? Bagi karyawan Anda menjadi beberapa kelompok kecil, dengan seorang pemimpin doa dalam setiap kelompok. Tuhan itu satu dan universal, maka Anda tidak perlu memaksakan harus berdoa dengan ritual tertentu atau secara agama tertentu, apalagi jika karyawan Anda bukan orang Kristen. Yang jelas, dengan doa bersama, karyawan akan sadar pentingnya mengandalkan pertolongan Tuhan supaya bisa bekerja lebih baik dan lebih efektif, dan mereka akan ikut mendoakan kesuksesan perusahaan.

"Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6)

"Serahkanlah khawatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." (Mazmur 55:23)

Worry is a total waste of time. It doesn't change anything. All it does is steal our joy and keeps us very busy doing nothing.

Sumber : abbalove.org

Posted in Marketplace

lt ad-1004 powerpoint templates title slide rev

  •  BRA-Q       Crapoe-Seafood-Restaurant copy
  • chemindo   Logo Puri Saron Hotels 
  • prego

Copyright © 2013 Communication & Publication Department FGBMFI Indonesia

Website Security Test