tagline fgbmfi

7 Tips mengelola resistensi karyawan akan perubahan

resistensiDalam beberapa tahun terakhir ini, kita sering membaca dan mendengar tentang berbagai perubahan di dunia usaha. Lingkungan bisnis telah berubah secara drastis dalam sepuluh tahun ini dan kita berada dalam masa transisi dari era revolusi industri menuju era revolusi informasi dan komunikasi.

Perubahan ini dipicu oleh perkembangan teknologi sebagai pendorong utama, khususnya pada tiga sektor utama, yaitu: (1) teknologi transportasi; (2) teknologi manufaktur; serta (3) teknologi informasi dan komunikasi. Tiga jenis perubahan inilah yang paling besar berdampak terhadap berbagai pola kehidupan manusia, termasuk terhadap cara berbisnis.

Dari tahun ke tahun, perubahan yang terjadi cenderung bersifat revolusioner daripada evolusioner, dengan siklus perubahan yang semakin cepat dan tidak bisa diprediksi. Kita bisa melihat bagaimana perusahaan taksi konvensional kelabakan akibat munculnya aplikasi transportasi online. Warung-warung kelontong banyak yang bangkrut karena maraknya minimarket modern di sana-sini. Warnet (warung internet) hampir lenyap ditelan zaman seiring dengan semakin populernya penggunaan komputer tablet dan smartphone. Penjualan kamera sempat turun drastis saat kemunculan kamera ponsel yang semakin canggih. Ini semua barulah sebagian. Masih banyak lagi perubahan terjadi di depan mata kita yang sebenarnya merupakan dampak dari perkembangan tehnologi. Pertanyaannya, dengan segala perubahan ini, apakah cara kita bekerja cara kita berbisnis dan cara karyawan kita bekerja sudah beradaptasi dan ikut berkembang?

Dalam setiap perusahaan, ada karyawan yang sadar dan mau berubah, tetapi ada juga karyawan tertentu yang sulit diajak berubah. Karyawan semacam ini biasanya masih suka atau nyaman “bernostalgia” dengan cara-cara atau kebiasaan kerja yang lama, yang sebenarnya tidak lagi relevan di masa kini. Untuk menyikapi dan mengatasi resistensi karyawan terhadap perubahan, berikut adalah beberapa kiat praktis yang penting untuk kita terapkan:

1. Rencana perubahan harus mempertimbangkan berbagai aspek, baik dari sisi kepentingan perusahaan maupun kepentingan karyawan.

Untuk mencegah resistensi terhadap perubahan, setiap bentuk perubahan hendaknya harus sudah direncanakan dengan mempertimbangkan berbagai aspek kepentingan semua pihak, bukan asal reaktif atau mendadak. Pertimbangan juga tidak boleh hanya menguntungkan pihak perusahaan atau manajemennya, tetapi harus menguntungkan pihak karyawan pula. Contoh keuntungan bagi pihak karyawan adalah kompensasi keuangan, jumlah pekerjaan, pelatihan keterampilan dan kerja, sistem upah atau bonus, investasi, dan sebagainya. Hal ini penting karena karyawan adalah aset perusahaan yang pada akhirnya menentukan hidup-matinya perusahaan. Karyawan sebagai aset perlu dijaga dan ditingkatkan nilainya senantiasa, dengan perlakuan yang manusiawi, adil, dan memperhatikan segala kebutuhannya.

2. Sedini mungkin, sosialisasikan latar belakang, tujuan, manfaat, strategi, dan langkah-langkah perubahan. 

Untuk mencegah resistensi terhadap perubahan, sangatlah penting untuk melakukan langkah-langkah di atas. Identifikasi masalah; analisis masalah; tentukan tujuan perubahan secara spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan, serta memiliki kerangka waktu yang jelas; susun alternatif jenis perubahan; tentukan opsi jenis kegiatan perubahan; dan putuskan perubahan apa yang harus dilakukan. Untuk itu, diperlukan pembahasan intensif di kalangan manajemen dan tim yang terkait. Kalau sudah disepakati, segera lakukan sosialisasi kepada seluruh karyawan.

3. Sedini mungkin pula, antisipasi berbagai “berita miring” tentang perubahan yang akan diterapkan. 

Di lapangan, informasi mengenai perubahan yang terjadi akan selalu diwarnai dengan “bumbu-bumbu” tambahan yang terkadang bisa menyesatkan dan berdampak negatif. Informasi yang beredar menjadi simpang siur. Masalah ini akan semakin gaduh jika sosialisasi terlambat dilakukan. Antisipasi dan atasi dengan mengkomunikasikan penjelasan yang logis mengenai perubahan yang direncanakan itu. Komunikasi yang jelas dapat menurunkan ketegangan dan kegaduhan akibat informasi yang kurang tepat dan komunikasi yang buruk. Jika karyawan menerima informasi yang menyeluruh dan tepat, resistensi dari karyawan pun akan menurun.

4. Proses perubahan harus melibatkan karyawan semaksimal mungkin, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. 

Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk turut berpartisipasi dalam proses perubahan tersebut dapat mengurangi tingkat resistensi atau penolakan dari karyawan. Tidak mungkin kita menolak perubahan yang kita ikut serta dalam proses pengambilan keputusannya. Libatkan karyawan sebanyak hal itu memungkinkan, baik secara jumlah karyawan yang terlibat, maupun sejauh mana keterlibatan karyawan itu. Namun, berhati-hatilah melakukannya. Upaya partisipasi ini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, jika karyawan yang dilibatkan memiliki kompetensi yang tepat, keputusan perubahan akan menjadi semakin tajam, tingkat resistensi karyawan menurun, tingkat komitmen karyawan naik, dan kualitas perubahan itu sendiri akan semakin baik. Di sisi lain, proses partisipasi ini dapat juga berakibat lahirnya keputusan yang “blunder” dan buruk serta menghabiskan waktu yang lama.

5. Para pemimpin di perusahaan harus memberikan pendampingan atau pelatihan yang memadai.

Komitmen pendampingan, pelatihan, atau dukungan dari kepemimpinan/manajemen perusahaan sangatlah penting dalam proses perubahan untuk meminimalkan kekhawatiran dan kecemasan karyawan terhadap perubahan. Pendampingan ini bisa diberikan dalam berbagai bentuk, misalnya konsultasi dan konseling atau pelatihan keterampilan yang baru, yang pada intinya menunjukkan dukungan dan komitmen perusahaan untuk mendampingi karyawan dalam proses perubahan ini. Pendampingan yang cukup dalam jangka waktu yang realistis akan menciptakan rasa aman untuk para karyawan dalam menjalani perubahan.

6. Bangun kepercayaan dan hubungan yang positif antar berbagai pihak dalam perusahaan. 

Pemimpin wajib membangun rasa aman dan kepercayaan dalam tim yang dipimpinnya. Karyawan akan lebih bersedia untuk menerima perubahan apabila memiliki kepercayaan terhadap kepemimpinan/manajemen yang memutuskan dan menerapkan perubahan itu. Jika pemimpin mampu memfasilitasi terciptanya hubungan yang positif, karyawan dapat lebih menerima proses perubahan, bahkan termasuk mereka yang awalnya cenderung resisten atau tidak setuju terhadap perubahan itu.

7. Lakukan pendekatan khusus terhadap sejumlah orang-orang yang resisten melebihi yang lain.

Sebagian karyawan cenderung bersikap menentang perubahan melebihi karyawan lainnya. Maka, para pemimpin perlu meredam dorongan resistensi ini melalui waktu khusus untuk berkomunikasi secara intensif. Gunakan pendekatan pribadi terlebih dahulu, lalu jelaskan berbagai data dan fakta yang mendukung alasan mengapa perubahan diperlukan. Yang terakhir, jika setelah sekian lama kelompok yang resisten ini tetap tidak mau bersikap kooperatif, terapkan tindakan tegas sesuai peraturan perusahaan.

Dalam ketujuh kiat yang kita baru saja pelajari tentang memimpin terjadinya suatu perubahan di tengah-tengah resistensi karyawan ini, intinya adalah kita perlu menabur sebelum menuai. Kalau Anda ingin karyawan menerima dan mengikuti perubahan, Anda perlu menabur rasa aman, kepercayaan, dan keterlibatan mereka. Prinsip ini pun ditulis dalam Lukas 6:31: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Selamat mempraktikkannya dengan selalu meminta tuntunan hikmat Allah.

Sumber : abbalove.org

Posted in Marketplace

lt ad-1004 powerpoint templates title slide rev

  •  BRA-Q       Crapoe-Seafood-Restaurant copy
  • chemindo   Logo Puri Saron Hotels 
  • prego

Copyright © 2013 Communication & Publication Department FGBMFI Indonesia

Website Security Test